Rabu, 25 Mei 2016

KONDISI EKSISTING

Bangunan Tribowl berada di Songdo Central Park, Incheon, Korea selatan. Incheon adalah kota metropolitan dan pelabuhan utama di pesisir barat korea selatan. incheon ini adalah kota penting yang berfungsi sebagai kota pelabuhan dan transportasi di asia timur serta salah satu kota dari dua zona ekonomi bebas korea selatan.
Songdo central park terletak di kota Incheon, tepat nya di kawasan district bisnis internasional Incheon.  Songdo District Bisnis Internasional (Songdo IBD) adalah new smart city yang dibangun di atas 600 hektar  lahan reklamasi sepanjang pantai Incheon.

- Bagian Utara bangunan Tribowl.
Dari sisi ini kita dapat melihat keindahan urban landscape songdo sentral park, dimana  terdapat satu bangunan iconic bernama I tower. Pada sisi kirinya terdapat jembatan besar yang dapat dilalui oleh kendaraan. Sedangkan pada sisi kanannya terdapat jembatan berbentuk melengkung yang berfungsi sebagai askes bagi para pejalan menuju tribowl. Dari kawasan hunian apartemenet.

- Bagian Timur bangunan Tribowl
pada bagian ini kita dapat melihat sungai dan melihat deretan gedung futuristic yang diperuntukkan sebagai hunian. 

·        -  Bagian Selatan bangunan Tribowl
di sisi ini terdapat bangunan Compact Smart City dan sebuah Sculpture

·        -  Bagian Barat bangunan Tribowl
Pada sisi ini terdapat gedung posco e &c dan jalan raya Incheon.


            Keadaan lalu lintas disan sangat rendah, berbeda dengan keadaan pengguna jalan dan sepeda. Karena memang di taman songdo central park ini untuk taman kota Incheon, dimana penghuni apartement selalu bermain ditaman dan melihat pemandangan indah di songdo central park, di sekitaran bangunan Tribowl.



Daerah sekitar tribowl, dapat di akses dengan mobil, sepeda, dan berjalan kaki. Terdapat juga kereta bawah tanah yang pintu masuknya persis di depan tribowl. Karena itu akses menuju daerah ini sangat mudah. Saat itu sedang memasuki musim semi. Angin dingin bertiup cukup kencang, dan udara menjadi semakin dingin. sehingga cukup mempersulit kami dalam melakukan pengamatan.

KEGIATAN DI KOREA SELATAN

Kuliah Lapangan Arsitektur 2016, Kloter 1 – Korea Selatan

Jum’at, 15 April 2016
Hari ini adalah hari keberangkatan kami ke Korea. Kami disuruh berkumpul di bandara Soetta pada pukul 19:00 WIB. Setelah seluruh mahasiswa berkumpul di bandara, pihak travel dibantu para dosen mulai mengabsen dan membagikan passport beserta boarding pass. Setelah itu kami mulai mengantri untuk security check dan masuk ke dalam bandara untuk melakukan proses imigrasi. Setelahnya kami menunggu di ruang tunggu. Hingga akhirnya kami dipanggil untuk melakukan boarding dan masuk ke dalam pesawat. Pada pukul 00:10 WIB pesawat kami take off.

Sabtu, 16 April 2016
                Akhirnya kami berhasil mendarat di Korea dengan selamat pada pukul 08:30 KST. Setelah kami melalui proses kesehatan dan imigrasi, kami antri untuk mengambil koper kami. Setelah itu kami keluar bandara dan disambut dengan mascott yang telah disiapkan oleh tour guide dari Korea. Kami diberi waktu untuk berfoto dengan mascott tersebut. Setelah semua mahasiswa dan dosen telah berkumpul sesuai dengan kelompok masing-masing, kami digiring masuk ke dalam bus yang telah menunggu kami, untuk memulai perjalanan kami selama di Korea Selatan. Selama di Korea kami dibimbing oleh seorang tour guide. Tour guide tersebut cukup lancar berbahasa indonesia, jadi kami tidak kesulitan ketika berkomunikasi dengan beliau.
Setelah sampai di pusat kota Seoul, kami dibawa menuju Samsung Jong-ro Tower. Disini bukan tempat amatan saya, jadi saya bersama teman saya berkeliling di sekitar bangunan tersebut. Kami secara bergantian saling mengambil gambar satu sama lain. Setelah 30 menit berada di daerah tersebut, kami kembali ke dalam bus. Kemudian kami dibawa makan siang yang lokasinya tidak jauh dari lokasi sebelumnya. Makan siang pertama kami adalah Bulgogi atau daging sapi yang dimasak bersama dengan bihun, jamur dan sayur-sayuran dengan kuah kecap asin yang disajikan bersama rumput laut, kimchi dan beberapa sayur yang lainnya.
Setelah makan siang, kami dibawa menuju Gyeongbok Palace. Disini saya mempelajari banyak sejarah tentang Korea. Tempat ini masih mempertahankan bangunan aslinya. Bangunan disini adalah bangunan tradisional dengan atap bertumpuk yang tinggi. Ketika rombongan kami datang, suasana di tempat ini sangat ramai. Banyak penduduk lokal dan juga wisatawan asing yg mengunjungi tempat ini. Ada yang sekedar berjalan-jalan, berkencan atau belajar. Saya sangat menyukai suasana di tempat ini. Suasana di tempat ini sangat tenang dan asri, dikarenakan banyak tumbuhan di tempat ini.


Setelah dari Gyeongbok, kami dibawa kembali ke daerah Incheon. Setelah tiba, kami dibawa makan malam. Makan malam pertama di Korea, saya hanya dapat makan nasi saja, karena saya kurang suka lauknya. Lauk yang disediakan adalah semacam sup dengan kuah pedas, berisi sayuran dan seafood, disajikan juga dengan kimchi dan beberapa jenis sayur yang lain. Selesai makan, kami kembali ke bus untuk bertolak ke hotel. Sesampainya di hotel, kami dibagikan kunci kamar dan segera masuk ke kamar kami untuk beristirahat. Namun tidak untuk saya. Selepas mandi, saya ditunggu teman sekelompok saya untuk briefing terakhir kali, sebelum esoknya saya akan melakukan pengamatan.

Minggu, 17 April 2016


                Morning call pukul 07:00 KST. Selepas mandi dan sudah rapi berpakaian, saya segera turun untuk sarapan. Setelah sarapan, kami menunggu bus datang menjemput kami. Udara pagi itu cukup dingin, dikarenakan malam sebelumnya turun hujan. Setelah bus datang, kami langsung masuk ke dalam bus. Tujuan kami hari itu adalah Songdo. Sesampainya di Songdo, saya dan kelompok langsung memisahkan diri, karena kami harus memulai pengamatan. Pengamatan kami adalah Tri-bowl. Saya cukup sedih karena tidak bisa mengeksplor daerah di sekitar Tri-bowl, karena harus melakukan pengamatan. 1 jam 30 menit lamanya saya dan kelompok melakukan pengamatan. Setelah itu kami kembali ke bus dan kami melanjutkan perjalanan ke Pulau Nami. Perjalanan dari Songdo ke Pulau Nami membutuhkan waktu sekitar 2 jam. Saya memilih tidur selama perjalanan ke Pulau Nami.
                Ketika sudah hampir sampai ke Pulau Nami saya terbangun. Dan saya merasa sangat lapar. Untungnya sebelum menyebrang ke Pulau Nami, kami makan siang terlebih dahulu. Makan siang kali ini sangat lezat. Yaitu ayam bakar dengan bumbu yang langsung dibakar di tungku bakaran yang ada di setiap meja, yang dibakar bersamaan dengan jamur dan tteok (Rice Cake). Kemudian disajikan dengan sup rumput laut dan beberapa sayur lain. Akhirnya saya bisa makan dengan lahap


                Selesai makan, kami mengantri kapal feri untuk menyebrang ke Pulau Nami. Setelah menempuh sekitar 10 menit, akhirnya kami tiba di Pulau Nami. Sebelum masuk, kami diberi pengarahan dan peta. Akhirnya kami bisa benar-benar masuk dan mengelilingi Pulau Nami. Kami banyak berfoto, membeli makanan kecil dan juga membeli souvenir khas Pulau Nami. Setelah setengah jam lebih berjalan-jalan di Pulau Nami, kami kembali berkumpul di titik awal, untuk menyeberang kembali ke parkiran bus. Setibanya kami di parkiran, kami langsung masuk ke dalam bus, dan melanjutkan pejalanan kami ke Gunung Seorak.
                Perjalanan dari Pulau Nami ke Gunung Seorak membutuhkan waktu sekitar 1 jam lebih. Saya sempat tertidur sebentar kemudian kembali terbangun karena kami berhenti di rest area untuk buang air kecil dan jajan makanan kecil. Setelah itu kami melanjutkan perjalanan ke Gunung Seorak. Setibanya kami di daerah Gunung Seorak, kami langsung dibawa makan malam. Lagi-lagi saya hanya makan nasi disini. Lauk yang disediakan adalah sup dengan tahu yang dihancurkan kemudian dicampur dengan potongan udang dan kepiting. Disajikan dengan kimchi dan beberapa sayuran lainnya. Selesai makan, kami segera bertolak ke hotel untuk beristirahat.
                Hotel tempat menginap kali ini tidak bisa disebut hotel, lebih tepatnya Condominium. Karena kamarnya terbilang cukup luas, dengan 1 double bed dan 1 single bed. Terdapat juga meja makan 4 kursi dan dapur kecil beserta peralatan memasaknya. Di lantai kamarnya juga dipasang penghangat, jadi tidak kedinginan ketika duduk di lantai. Selepas mandi, saya kembali briefing kelompok selama kurang lebih 1 jam. Kemudian saya kembali ke kamar untuk beristirahat.

Senin, 18 April 2016
                Morning call pukul 07:30 KST. Selepas mandi dan sudah rapi berpakaian, saya segera turun untuk sarapan. Karena saya bangun agak terlambat, jadi ketika saya turun untuk sarapan, teman-teman yang lain telah menyelesaikan sarapan mereka. Akhirnya saya sarapan dengan sedikit terburu-buru. Setelah selesai sarapan saya segera menuju bus yang telah menunggu.




                Tempat pertama yang dikunjungi adalah Taman Nasional Gunung Seorak. Seharusnya kami bisa naik kereta gantung menuju desa diatas gunung, namun dikarenakan angin yang cukup kencang pada saat itu. Taman ini sangat luas terdapat berbagai jenis tumbuh-tumbuhan. Yang paling terkenal ditempat ini adalah patung budha yang berukuran cukup besar. Kami tidak terlalu lama berada disini, karena kami harus segera kembali ke Seoul. Karena kami tidak dapat naik kereta gantung, jadi sebagai gantinya kami mengunjungi Museum Teddy Bear yang terdapat di Gunung Seorak. Mungkin tidak sebesar Museum Teddy Bear yang di Pulau Jeju, namun ini cukup mengobati kekecewaan kami. Disini terdapat berbagai jenis boneka dari yang kecil hingga besar.
                Setelah dari museum teddy bear, kami makan siang. Makan siang kali ini sangat lezat. Yaitu ikan bakar yang disajikan dengan sup rumput laut, kimchi serta  lembaran rumput laut, dan juga beberapa jenis sayuran lainnya. Disini juga kami membeli beberapa bungkus lembaran rumput laut untuk dibawa pulang, karena rumput laut di rumah makan ini lebih enak dibanding rumput laut di tempat lain. Selesai makan kami segera kembali ke Seoul. Saya memilih untuk tidur selama perjalanan ke Seoul. Saya terbangun ketika bus berhenti di rest area. Akhirnya saya turun untuk buang air kecil dan meregangkan badan. Kemudian saya kembali ke bus dan kami melanjutkan perjalanan ke Seoul.



                Sesampainya di Seoul, kami dibawa ke Dongdaemun. Disini kami diberi waktu untuk berbelanja oleh-oleh untuk dibawa pulang. Tempat kami berbelanja berseberangan dengan Dongdaemun Design Plaza. Jadi setelah berbelanja, saya menyeberang dan mengunjungi DDP. Sayang sekali, ketika saya hendak mengambil gambar, cuaca sedang kurang bersahabat dan turun hujan. Akhirnya saya hanya berfoto sebentar dan kembali ke tempat kami berbelanja. Setelah semuanya berkumpul, kami menunggu bus datang untuk menjemput kami. Setelah bus datang, kami langsung menuju restoran untuk makan malam. Makan malam kali ini juga lezat. Yaitu sup ayam gingseng, ayam yang direbus dengan isian nasi dan potongan gingseng, dan kuah kaldu beserta bihun di dalamnya. Setelah makan malam, kami bergegas ke hotel. sesampainya di hotel, saya segera mandi dan membereskan oleh-oleh. Saya hanya turun sebentar untuk membeli cemilan, kemudian kembali lagi ke kamar untuk beristirahat.

Selasa, 19 April 2016
                Morning call pukul 07:00 KST. Hari itu saya terlambat bangun. Dengan terburu-buru saya mandi dan berpakaian, kemudian bergegas turun untuk sarapan. Walaupun sudah terlambat, saya menyempatkan diri untuk sarapan. Selesai sarapan saya segera masuk ke dalam bus, karena yang lain sudah menunggu. Tempat pertama yang dikunjungi hari itu adalah tempat penjualan gingseng. Korea Selatan dikenal sebagai penghasil gingseng terbaik di dunia. Di tempat ini kita bisa membeli berbagai olahan gingseng.
                Setelah dari tempat gingseng, kami bertolak ke Museum Leeum. Museum ini terletak di daerah Itaewon. Museum ini menampilkan berbagai jenis hasil karya seniman korea. Sayang sekali, kami tidak bisa mengambil gambar di dalam museum ini. Selepas dari museum Leeum, kami diarahkan menuju tempat penjualan kosmetik bernama Obdo. Disini kami bisa berbelanja berbagai jenis kosmetik. Saya tidak berbelanja disini, jadi saya hanya berfoto di sekitar tempat itu saja.  Setelah dari Obdo, kami dibawa untuk makan siang. Makan siang kali ini adalah makanan cina, jadi kami tidak asing lagi dengan jenis makanan ini. Kami makan sangat lahap disini.


                Selepas makan siang, kami pergi ke daerah Gwanghwamun. Tepatnya kami ke Donghwa Duty Free untuk berbelanja kosmetik korea dengan harga murah. Setelah puas berbelanja kosmetik, kami berjalan kaki menuju Cheong-gye Cheon Stream. Tempat ini adalah sungai buatan yang berada di tengah kota. Tempat ini sangat cocok untuk berjalan-jalan atau sekedar duduk santai sambil mengobrol minum kopi.
                Dari sini, kami bertolak menuju Myeondong. Di Myeondong saya berbelanja banyak kaos kaki karakter dan beberapa baju. Saya juga membeli beberapa jajanan yang dijajakan disana. Saat itu banyak sekali orang yang mengunjungi Myeondong. Setelah dari Myeondong, kami bergegas makan malam. Itu adalah makan malam terakhir kami di Korea. Menu makan malam kali ini sangat lezat. Kami makan daging sapi segar yang langsung di panggang, disajikan dengan nasi, sup rumput laut, dan beberapa sayur lainnya.
                Selepas makan malam, kami kembali ke hotel untuk beristirahat dan packing. Namun saya dan beberapa teman saya memilih untuk kembali ke DDP. Kami kembali ke DDP menggunakan taksi. Disana kami mengengelilingi bangunan dan mengambil foto bangunan dari beberapa angle. Karena waktu sudah menunjukkan tengah malam, maka kami memilih untuk kembali ke hotel. Kamil kembali menggunakan taksi. Namun, saya dan beberapa teman saya tertipu oleh supir taksi tersebut. Seharunya ongkos dari DDP ke hotel itu 4000 won (sekitar 40-50 ribu rupiah), namun supir taksi tersebut meminta ongkos 30.000 won (sekitar 300 ribu rupiah). Teman saya yang berbeda taksi dengan saya, hanya dikenakan ongkos 4000 won. Akhirnya dengan berat hati, saya dan teman-teman mengikhlaskan uang kami. Kami bergegas kembali ke kamar untuk packing dan beristirahat.

Rabu, 20 April 2016
                Morning call pukul 06:00 KST. Karena morning call hari ini cukup pagi, akhirnya saya memilih untuk tidak tidur semalaman karena saya takut terlambat. Setelah mandi dan berpakaian, saya bergegas turun dan menunggu ruang sarapan dibuka. Setelah ruang sarapan dibuka, saya segera masuk untuk sarapan. Sehabis sarapan saya bergegas masuk ke dalam bus.




                Tujuan terakhir adalah Seoul N Tower. Lokasi ini sangat terkenal karena beberapa kali masuk ke dalam drama-drama korea. Disini juga terdapat gembok cinta. Suasana disini juga sangat tenang dan sejuk. Terdapat berbagai jenis pepohonan dan bunga-bungaan. Ketika disana juga banyak wisataawan lokal dan wisatawan asing yang berkunjung. Ada yang sekedar berjalan-jalan dan berolahraga. Dari Seoul N Tower, kami bertolak menuju bandara Incheon. Kami berhenti di tempat makan di daerah Incheon untuk makan siang dan berbelanja makanan untuk oleh –oleh. Setelah itu kami kembali lagi ke bus untuk melanjutkan perjalanan ke bandara. Sesampainya di bandara kami bergegas untuk boarding dan masuk ke dalam bandara. Disini kami berpisah dengan tour guide kami.
Tour guide kami bernama Wooni. Beliau adalah seorang perempuan. Beliau adalah satu-satunya tour guide perempuan di rombongan kami, dan kebetulan beliau adalah tour guide di bus kami, bus 1. Kami (yang perempuan) memanggilnya Wooni Eonnie, supaya lebih ramah. Beliau cukup lancar berbahasa indonesia karena beliau sempat tinggal di indonesia. Beliau juga sangat perhatian kepada kami. Terkadang beliau sangat serius, marah, lucu dan tegas disaat yang bersamaan. Beliau selalu mengingatkan kami dalam banyak hal.
Setelah mengucapkan salam perpisahan, kami masuk ke dalam bandara dan menunggu untuk masuk ke dalam pesawat. Setelah menunggu selama kurang lebih setengah jam, kami masuk ke dalam pesawat. Kami take off sekitar pukul 18:00 KST. Perjalanan dari Korea menuju Indonesia agak sedikit terganggu, karena cuaca yang kurang baik. Saat mengudara, terjadi beberapa kali goncangan. Akhirnya mendarat dengan selamat tiba di Indonesia.


Kamis, 14 April 2016

INCHEON TRI-BOWL


Proyek: Incheon Tri-Bowl
Dirancang oleh iARC Architects
Arsitek: Kerl Yoo
Tim Desain: Jeongim Kim, Seunghyeon Shin, Seongjin Kim, Seokcheon Kim, Jungjun Park, Yoonjoo Lee, Geunseok Ryu, Sunhun Kim, Sangmi Lee, Jiyeon Ryu, Junseok Park, Taesu Kim, Seoneun Park.
Luas Bangunan: 2.869 sqm
Luas Site: 12.300 sqm
Tahun Proyek: 2010
Lokasi: Incheon, Korea Selatan
Website: www.iarc.net
            Incheon Tri-Bowl adalah pameran dan kinerja ruang berbentuk sangat dibuat oleh iARC Architects, yang dengan proyek ini ingin menentang gagasan bentuk arsitektur setiap hari.
Tujuan: Membuat Landmark, Taman Pusat Song Do
Pertimbangan: Mencerminkan gambar, Representasi laut dari Pelabuhan Incheon.
Persyaratan Desain: Multi-fungsi bangunan untuk pameran, kinerja, dan pertemuan


The Incheon Tri-Bowl dibangun untuk memperingati Global Pameran & Festival Incheon, Korea. mangkuk melambangkan Incheon dan langit nya (bandara), laut (pelabuhan), dan tanah (wide-area network transportasi), serta distrik Songdo, Chengna, dan Yeongjong, yang bersama-sama membentuk Incheon Free Economic Zone. Bangunan ini memiliki ruang multi-budaya dengan acara hall, aula serbaguna, dan perpustakaan digital. Berdiri di kolam, bangunan menyerupai mangkuk besar beristirahat di atas air.


The Incheon Tri-Bowl dimulai dengan ide yang melawan pikiran umum tentang arsitektur. Hal ini terdiri dari lantai melengkung dengan atap datar bukannya lantai datar dengan atap melengkung arsitektur umum. Memorial hall ini pada dasarnya digunakan untuk pameran dan dirancang untuk memiliki langit-langit yang luas bagi mereka pameran. Lampu LED, menyusun langit-langit, membuat informasi yang tersedia di mereka sewaktu-waktu. Struktur mengambang di kolam refleksi persegi panjang dan pelanggan akan masuk melalui jembatan panjang yang lewat di bawahnya massa. Interior selesai dengan bahan transparan dan juga struktur ringan dengan dipisahkan dengan tubuh shell. Sirkulasi pelanggan dalam jejak kurva kubik terus menerus yang membuat beberapa tindakan seperti berputar-putar, naik dan turun dan lain-lain Ada ruang layanan terdiri dari kamar untuk pameran, kinerja dan beristirahat serta ruang kantor. Pameran dan kinerja ruang dapat menerima sekitar 400 orang dan para pengunjung dapat melihat pameran menggantung dari langit-langit melalui jejak kurva kubik. Hal ini terutama permukaan satu arah melengkung dari kurva bebas dan kurva berbentuk kerucut di bawah tubuh shell. Eksterior selesai dengan beton ekspos pada bagian bawah shell sedangkan bagian atas shell selesai dengan panel aluminimum.


Untuk sampai ke gedung, pengunjung harus menyeberang jembatan yang membentang diatas kolam  selebar 90m, panjang 50.5m, dan 30cm kedalaman kolam. Karena bentuk bangunan yang menyerupai mangkuk, maka lantai pertama memiliki luas yang sangat kecil dan hanya cukup untuk kantor informasi. Melanjutkan ke lantai atas, flare bangunan keluar ke lantai luas, dikombinasikan kedua dan ketiga di mana berbagai karya seni yang dipamerkan. Ruang ini juga terdapat panggung untuk pertunjukan dan acara lainnya.
cr:
http://english.visitkorea.or.kr/enu/AKR/FU_EN_15.jsp?cid=1008996
http://english.visitkorea.or.kr/enu/ATR/SI_EN_3_6.jsp?cid=1718482
http://www.archiscene.net/cultural/incheon-tri-bowl-iarc-architects/
www.youtube.com 


Selasa, 05 Januari 2016

ARSITEKTUR BIOKLEMATIK

Pengertian Arsitektur Bioklimatik



Arsitektur bioklimatik adalah suatu pendekatan yang mengarahkan arsitek untuk mendapatkan penyelesaian desain dengan memperhatikan hubungan antara bentuk arsitektur dengan lingkungannya dalam kaitanyan iklim daerah tersebut. Pada akhirnya bentuk arsitektur yang dihasilkan juga dipengaruhi oleh budaya setempat, dan hal ini akan berpengaruh pada ekspresi arsitektur yang akan ditampilakan dari suatu bangunan, selain itu pendekatan bioklimtaik akan mengurangi ketergantungan karya arsitektur terhadap sumber – sumber energi yang tidak dapat dipengaruhi.




Perkembangan Arsitektur Bioklimatik

Perkembangan Arsitektur Bioklimatik berawal dari 1960-an. Arsitektur Bioklimatik merupakan arsitektur modern yang dipengaruhi oleh iklim. Arsitektur bioklimatik merupakan pencermian kembali arsitektur Frank Loyd Wright yang terkenal dengan arsitektur yang berhubungan dengan alam dan lingkungan dengan prinsip utamanya bahwa didalam seni membangun tidak hanya efisiensinya saja yang dipentingkan tetapi juga ketenangannya, keselarasan, kebijaksanaan, kekuatan bangunan dan kegiatan yang sesuai dengan bangunannya, “Oscar Niemeyer dengan falsafah arsitekturnya yaitu penyesuaian terhadap keadaan alam dan lingkungan, penguasaan secara fungsional, dan kematangan dalam pengolahan secara pemilihan bentuk, bahan dan arsitektur”.
Akhirnya dari Frank Wright dan Oscar Niemeyer lahirlah arsitek lain seperti Victor Olgay pada tahun 1963 mulai memperkenalkan arsitektur bioklimatik. Setalah tahun 1990-an Kenneth Yeang mulai menerapkan arsitektur bioklimatik pada bangunan tinggi bioklimatik yang memenangkan penghargaan Aga Khan Award tahun 1966 dan Award pada tahun 1966

Prinsip Desain Bioklimatik Menurut Yeang (Bioclimatic Skyscrapers)

1. Penempatan Core Menurut Yeang, 
Posisi service core sangat penting dalam merancang bangunan tingkat tinggi. Service core bukan hanya sebagai bagian struktur, juga mempenagruhi kenyamanan ternal.

Posisi core dapat diklasifikasikan dalam tiga bentuk, yaitu :

  • 1.    Core pusat
  • 2.    Core ganda 
  • 3 .   Core tunggal terletak pada sisi bangunan.


1. Core Pusat
    2. Core Ganda
3. Core Tunggal (sisi bangunan)














Core ganda memiliki banyak keuntungan, dengan memakai dua core dapat dijadikan sebagai penghalang panas yang masuk kedalam bangunan. Penelitian harus menunjukkan penggunaan pengkondisian udara secara minimum dari penempatan service core ganda yang tampilan jendala menghadap utara dan selatan, dan core ditempatkan pada sisi timur dan barat. Penerapan ini juga dapat diterapkan pada daerah beriklim sejuk

2. Menetukan Orientasi
Bangunan tingkat tinggi mendapatkan penyinaran matahari secara penuh dan radiasi panas. Orientasi bangunan sangat penting untuk menciptakan konservasi energi. Secara umum, susunan bangunan dengan bukaan menghadap utara dan selatan memberikan keuntungan dalam mengurangi insulasi panas.Orientasi bangunan yang terbaik adalah meletakkan luas permukaan bangunan terkecil menghadap timur – barat memberikan dinding eksternal pada luar ruangan atau pada emperan terbuka. Kemudian untuk daerah tropis peletakan core lebih disenangi pada poros timur-barat. Hal ini dimaksudkan daerah buffer dan dapat menghemat AC dalam bangunan.


3. Penempatan Bukaan Jendela
Bukaan jendela harus sebaiknya menghadap utara dan selatan sangat penting untuk mendapatkan orientasi pandangan. Jika memperhatikan alasan easthetic, curtain wall bisa digunakan pada fasad bangunanyang tidak menghadap matahari. Pada daerah iklim sejuk, ruang transisional bisa menggunakan kaca pada bagian fasad yang lain maka teras juga berfungsi sebagai ‘ruang sinar matahari’, berkumpulnya panas matahari, sperti rumah kaca. Penempatan bukaan jendela pada bangunan bioklimatik dapat dilihat pada gambar 13 berikut ini.



Menggunakan kaca jendela yang sejajar dengan dinding luar dengan menggunakan kaca dengan sistem Metrical Bioclimatic Window (MBW). MBW didesain sebagai sistem elemen dengan fungsi yang dikhususkan untuk ventilasi, perlindungan tata surya, penerangan alami, area visualisasi, dan kebebasan pribadi serta sistem luar yang aktif.
Sistem MBW disadur dan disesuaikan dengan perkembangan zaman. Sistem ini bermaksud mengatur kondisi ternal ruangan dengan menggunakan maksud bioklimatik teknik, yaitu :
· Penurunan perolehan panas oleh radiasi surya.
· Control perolehan panas oleh konveksi dan penggunaan ventilasi silang ataupun dengan pemilihan cerobong asap.
Dengan penggunaan teknik diatas, maka pencahayaan lebih maksimal dan udara pada malam hari dapat menjadi lebih sejuk.

4. Penggunaan Balkon


Menempatkan balkon akan membuat area tersebut menjadi bersih dari panel – panel sehingga mengurangi sisi panas yang menggunakan panas. Karena adanya teras – teras yang lebar akan mudah membuat taman dan menanam tanaman yang dapat dijadikan pembayang sinar yang alami, dan sebagai daerah fleksibel akan mudah untuk menambah fasilitas – fasilitas yang akan tercipta dimasa yang akan datang.

5. Membuat ruang Transisional
Menurut Yeang, ruang transisional dapat diletakkan ditengah dan sekeliling sisi bangunan sebagai ruang udara dan atrium. Ruang ini dapat menjadi ruang perantaran antara ruang dalam dan ruang luar bangunan. Ruang ini bisa menjadi koridor luar seperti rumah – rumah toko tua awal abad sembilan belas di daerah tropis. Membuat ruang transisional pada fasad bangunan bioklimatik dapat dilihat pada gambar 15 berikut ini.




MenurutYeang, penempatan teras pada bagian dengan tingkat panas yang tinggi dapat mengurangi penggunaan panel – panel anti panas. Hal ini dapat memberikan akses ke teras yang dapat juga digunakan sebagai area evakuasi jika terjadi bencana seperti kebakaran. Penggunaan balkon pada bangunan bioklimatik dapat dilihat pada gambar 14 berikut ini.Atrium sebaiknya tertutup, tetapi diletakkan diantara ruangan. Puncak bangunan sebaiknya dilindungi oleh sirip – sirip atap yang mendorong angin masuk kedalam bangunan. Hal ini juga bisa di desain sebagai fungsi Wind scoopsuntuk mengendalikan pengudaraan alami yang masuk kedalam bagian gedung.

6. Desain Pada Dinding
Penggunaan mebran yang menghubungkan bangunan dengan lingkungan dapat dijadikan sebagai kulit pelindung. Pada iklim sejuk dinding luar harus dapat menahan dinginnya musim dingin dan panasnya musim panas. Pada kasus ini, dinding luar harus seperti pelindung insulasi yang bagus tetapi harus dapat dibuka pada musim kemarau. Pada daerah tropis dinding luar harus bisa digerakkan yang mengendalikan dan cross ventilation untuk kenyamanan dalam bangunan. Desain dinding pada bangunan bioklimatik.


7. Hubungan Terhadap Landscape
Menurut Yeang, lantai dasar bangunan tropis seharusnya lebih terbuka keluar dan menggunakan ventilasi yang alami karena hubungan lantai dasar dengan jalan juga penting. Fungsi atrium dalam ruangan pada lantai dasar dapat mengurangi tinggkat kepadatan jalan. Tumbuhan dan lanskap digunakan tidak hanya untuk kepentingan ekologis dan eastetik semata, tetapi juga membuat bangunan menjadi lebih sejuk. Hubungan terhadap landscape dapat dilihat pada gambar 17 berikut ini.




Mengintegrasikan antara elemen boitik tanaman dengan elemen boitik, yaitu : bangunan. Hal ini dapat memberikan efek dingin pada bangunan dan membantu proses penyerapan O2 dan pelepasan CO2.

8. Menggunakan Alat Pembayang Pasif
Menurut Yeang, pembayang sinar matahari adalah esensi pembiasan sinar matahari pada dinding yang menghadap matahri secara langsung (pada daerah tropis berada disisi timur dan barat) sedangkan croos ventilationseharusnya digunakan (bahkan diruang ber-AC) meningkatkan udara segar dan mengalirkan udara panas keluar. Penggunaan alat pembayang pasif dapat dilihat pada gambar 18 berikut ini





 
Pemberian ventilasi yang cukup pada ruangan dengan peraturan volumetric aliran udara. Dengan adanya ventilasi, maka udara panas diatas gedung dapat dialirkan kelingkungan luar sehingga dapat menyegarkan ruangan kembali.

9. Penyekat Panas Pada Lantai
Menurut Yeang, insolator panas yang baikpada kulit bangunan dapat mengurangi pertukaran panas yang terik dengan udara dingin yang berasal dari dalam bangunan. Karakterisitk thermal insulation adalh secara utama ditentukan oleh komposisinya. Denga lasan tersebut maka thermal insolation dibagi menjadi lima bagian utama, walaupun banyak insulator yang utama kerupakan turunan produk jenis – jenis ini. Penyekat panas pada lantai bangunan bioklimatik dapat dilihat pada gambar 19 berikut ini.
Lima jenis utama, adalah :
· Flake (serpihan)
· Fibrous (berserabut)
· Granular (butiran – butiran)
· Cellular (terdiri dari sel)
· Reflective (memantulkan)





Struktur massa bangunan bekerja melepas panas pada siang hari dan melepas udara dingin pada siang hari. Pada iklim sejuk struktur bangunan dapat menyerap panas matahari sepanjang siang hari dan melepaskannya pada siang hari. Solar window atau solar-collector heat ditempatkan didepan fisik gedung untuk menyererap panas matahari.













Sumber: ozhuarch-2806.blogspot.com/ arsitektur Bioklimatik
http://archiholic99danoes.blogspot.co.id/2011/05/arsitektur-bioklimatik.html

Jumat, 18 Desember 2015

RUANG TERBUKA HIJAU


PENGERTIAN
          Ruang Terbuka Hijau atau disingkat RTH merupakan suatu bentuk pemanfaatan lahan pada satu kawasan yang diperuntukan untuk penghijauan tanaman. Ruang terbuka hijau yang ideal adalah 40% dari luas wilayah, selain sebagai sarana lingkungan juga dapat berfungsi untuk perlindungan habitat tertentu atau budidaya pertanian dan juga untuk meningkatkan kualitas atmosfer serta menunjang kelestarian air dan tanah. Klasifikasi bentuk RTH umumnya antara lain RTH Konservasi/Lindung dan RTH Binaan.


FUNGSI DAN MANFAAT
Fungsi dari penataan Ruang Terbuka Hijau Kawasan Perkotaan:
a) Pengamanan keberadaan kawasan lindung perkotaan.
b) Pengendali pencemaran dan kerusakan tanah, air dan udara.
c) Tempat perlindungan plasma nutfah dan keanekaragaman hayati.
d) Pengendali tata air; dan e) Sarana estetika kota.

Manfaat penataan Ruang Terbuka Hijau Kawasan Perkotaan:
a) Sarana mencerminkan identitas daerah.
b) Sarana penelitian, pendidikan dan penyuluhan.
c) Sarana rekreasi aktif dan pasif serta interaksi sosial.
d) Meningkatkan nilai ekonomi lahan perkotaan.
e) Menumbuhkan rasa bangga dan meningkatkan prestise daerah.
f) Sarana aktivitas sosial bagi anak-anak, remaja, dewasa dan manula.
g) Sarana ruang evakuasi untuk keadaan darurat.
h) Memperbaiki iklim mikro.
i) Meningkatkan cadangan oksigen di perkotaan.

PERATURAN
UU NO 26 TAHUN 2007 ( PENATAAN RUANG)
           Peraturan tentang struktur ruang dan prasarana wilayah kabupaten yang untuk melayani kegiatan dalam skala kabupaten. Pemerintah kabupaten memiliki wewenang dalam pengembangan dan pengelolaan kabupaten dan telah disahkan dalam undang – undang. Rencana tata ruang kabupaten memuat rencana Pola ruang yang ditetapkan dalam Rencana Tata Ruang Wilayah Nasional dan rencana tata ruang provinsi yang terkait dengan wilayah kabupaten yang bersangkutan. Rencana tata ruang wilayah kabupaten merupakan pedoman dasar bagi pemda dalam pengembangan lokasi untuk kegiatan pembangunan di daerahnya terutama pada daerah pedesaan. Peninjauan kembali atau revisi terhadap rencana tata ruang untuk mengevaluasi kesesuaian kebutuhan pembangunan.

UU NO 26 TAHUN 2007 TENTANG RTH (RUANG TERBUKA HIJAU)
           Pada UU No 26 Tahun 2007 Pasal 17, memuat bahwa proporsi kawasan hutan paling sedikit 30% dari luas daerah aliran sungai (DAS) yang dimaksudkan untuk menjaga kelestarian lingkungan.

Isi UU No. 26 Tahun 2007 Pasal 17:
(1) Muatan rencana tata ruang mencakup rencana struktur ruang dan rencana pola ruang.
(2) Rencana struktur ruang sebagaimana dimaksud pada ayat 1, meliputi rencana sistem pusat permukiman dan rencana sistem jaringan prasarana.
(3) Rencana pola ruang sebagaimana dimaksud pada ayat 1, meliputi peruntukan kawasan lindung dan kawasan budi daya.
(4) Peruntukan kawasan lindung dan kawasan budi daya sebagaimana dimaksud pada ayat 3 meliputi peruntukan ruang untuk kegiatan pelestarian lingkungan, sosial, budaya, ekonomi, pertahanan, dan keamanan.
(5) Dalam rangka pelestarian lingkungan sebagaimana dimaksud pada ayat 4, dalam rencana tata ruang wilayah ditetapkan kawasan hutan paling sedikit 30 persen dari luas daerah aliran sungai.
(6) Penyusunan rencana tata ruang harus memperhatikan keterkaitan antarwilayah, antarfungsi kawasan, dan antarkegiatan kawasan.
(7) Ketentuan lebih lanjut mengenai tata cara penyusunan rencana tata ruang yang berkaitan dengan fungsi pertahanan dan keamanan sebagai subsistem rencana tata ruang wilayah diatur dengan peraturan pemerintah.

Pasal 1 angka 31 Undang-Undang No 26 Tahun 2007 Tentang Penataan Ruang mendefinisikan Ruang Terbuka Hijau (RTH) sebagai area memanjang / jalur dan / atau mengelompok yang penggunaannya lebih bersifat terbuka, tempat tumbuh tanaman, baik yang tumbuh secara alamiah, maupun yang sengaja ditanam. Klasifikasi Ruang Terbuka Hijau (RTH) dapat dibagi menjadi 9:
1.Kawasan hijau pertamanan kota
2.Kawasan Hijau hutan kota
3.Kawasan hijau rekreasi kota
4.Kawasan hijau kegiatan olahraga
5.Kawasan hijau pemakaman

Tujuan pembentukan RTH di wilayah perkotaan adalah:
1.Meningkatkan mutu lingkungan hidup perkotaan dan sebagai sarana pengamanan lingkungan perkotaan.
2.Menciptakan keserasian lingkungan alam dan lingkungan binaan yang berguna bagi kepentingan masyarakat.

Beberapa faktor yang harus diperhatikan dalam Pengelolaan RTH adalah:
1.Fisik (dasar eksistensi lingkungan), bentuknya bisa memanjang, bulat maupun persegi empat atau panjang atau bentuk-bentuk geografis lain sesuai geo-topografinya.
2.Sosial, RTH merupakan ruang untuk manusia agar bisa bersosialisasi.
3.Ekonomi, RTH merupakan sumber produk yang bisa dijual
4.Budaya, ruang untuk mengekspresikan seni budaya masyarakat
5.Kebutuhan akan terlayaninya hak-hak manusia (penduduk) untuk mendapatkan lingkungan yang aman, nyaman, indah dan lestari

KOTA YANG MENERAPKAN RTH 30% DARI LUAS WILAYAHNYA

BALIKPAPAN




           Secara administratif luas keseluruhan Kota Balikpapan menurut RTRW tahun 2012-2032 adalah 81.495 Ha yang terdiri dari luas daratan 50.337,57 Ha dan luas lautan 31.164,03 Ha.Pansus DPRD Kota Balikpapan dalam pembahasan revisi RTRW Kota Balikpapan Tahun 2012-2032 atas revisi Perda No. 5 Tahun 2006 tentang RTRW Tahun 2005-2015, mengurai problematika penataan ruang di Kota Balipapan dalam 10 tahun terakhir. Dalam perecanaan tata ruang, pemerintah Kota Balikpapan telah menyempurnakan Perda Kota Balikpapan Nomor 5 Tahun 2006 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Kota Balikpapan tahun 2005 – 2015 menjadi Perda Kota Balikpapan Nomor 12 tahun 2012 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Kota Balikpapan Tahun 2012 – 2032 yang telah ditetapkan tanggal 2 November 2012. Dalam Perda terdapat beberapa komitmen yang menjadi kebijakan untuk tetap dilanjutkan, antara lain:
- Pola ruang 52% Kawasan Lindung dan 48% Kawasan Budidaya
- Tidak menyediakan ruang untuk wilayah pertambangan
- Pengembangan kawasan budidaya dengan konsep foresting the city dan green corridor, untuk pengembangan Kawasan Industri Kariangau diarahkan pada green industry yang didukung zero waste dan zero sediment.

           Perkembangan kota Balikpapan dalam beberapa tahun terakhir ini sangat pesat. Topografi Balikpapan berbukit-bukit dengan kelerengan yang bervariasi, serta jenis tanah pada beberapa kawasan didominasi oleh jenis yang mudah mengalami pergeseran dan erosi. Kondisi ini memerlukan penanganan yang benar dalam pengelolaannya. Kebutuhan akan lahan untuk mencapai visi Balikpapan dapat diwujudkan melalui program-program pembangunan yang berwawasan lingkungan dengan mengikutsertakan seluruh komponen yang ada di kota ini dalam aspek-aspek perencanaan, pelaksanaan dan evaluasinya. Berdasarkan hasil pengumpulan data luas hutan kota di Balikpapan yang secara definitive sudah ditetapkan, saat ini baru mencapai 200 ha yang tersebar di 28 lokasi atau mencapai 0,4 persen dari luas wilayah Kota Balikpapan (503 kilometer persegi).

Dasar dan Aspek Legal
         Kebijakan Pemerintah kota Balikpapan untuk menetapkan beberapa kawasan hutan kota sebagai kawasan yang dilindungi karena sifatnya yang khusus, di antaranya sebagai bagian dari Ruang Terbuka Hijau Kota sejak tahun 1996 sudah ada meskipun dalam perencanaan, pelaksanaan, pengelolaan dan pengawasannya masih terus dibenahi. Penetapan dua puluh satu kawasan sebagai hutan kota juga berperan sebagai ruang terbuka hijau dari tahun 1996 hingga tahun 2004 oleh Pemerintah Balikpapan melalui beberapa buah Surat Keputusan Walikota.
          RTH kota Balikpapan terdiri dari; kawasan Hutan Lindung Sungai Wain, Kebun Raya Balikpapan, Hutan Kota Pertamina dan taman-taman kota serta taman median jalan. Jika ditinjau dari rasio luas lahan yang dibangun dengan RTH, maka Balikpapan memilki persentase di atas nilai standar BLH yang menentukan luas lahan.
          Berdasarkan hasil identifikasi terhadap kawasan Nonbudidaya/Lindung dan Ruang Terbuka Hijau yang ada di Kota Balikpapan yaitu 18.821,742 Ha atau 37,396 % dari luas kota Balikpapan (50.330,57 Ha). Untuk memenuhi prosentasi 52% maka arahan pengembangan kawasan non budidaya (RTH ) sebagai berikut menurut Bappeda 2009.
          Penghargaan yang pernah diraih Kota Balikpapan yang berkaitan dengan lingkungan hidup yaitu penghargaan ASEAN Environment Sustainable City (ESC) dalam acara invitation to the for 3rd ASEAN Environmentally Suistainable Cities Award and The 2nd ASEAN Certificates of Recognition with the following details, yang berlangsung di Loa Plaza Hotel,Laos. Penghargaan ini diterima langsung Wali Kota HM Rizal Effendi,SE di Laos tadi malam. Balikpapan meraih penghargaan ini karena berhasil melakukan penataan lingkungan kota secara berkelanjutan. Terutama terkait dengan clean land, clean water dan clean air. Termasuk inovasi dalam pengelolaan dan pemanfaatan sampah.
          Selain itu, yang terakhir baru saja diperoleh Penerapan Inovasi Manajemen Perkotaan (IMP) oleh Pemerintah Kota Balikpapan dalam bidang pengelolaan tata ruang dengan sub bidang penataan ruang terbuka hijau (RTH) meraih prestasi gemilang. Balikpapan menduduki peringkat pertama sebagai kabupaten/kota terbaik se Indonesia dalam bidang tersebut. Dan yang terakhir pernah meraih juara tiga lomba menanam pohon nasional untuk kategori kotamadya di Indonesia.

ACEH



Green planning and design (Perencanaan dan rancangan kota hijau)
Perencanaan dan rancangan hijau adalah perencanaan tata ruang yang berprinsip pada konsep pembangunan kota berkelanjutan. Green city menuntut perencanaan tata guna lahan dan tata bangunan yang ramah lingkungan serta penciptaan tata ruang yang atraktif dan estetik. Strategi tata ruang Kota Banda Aceh diarahkan untuk mengakomodasi lebih banyak ruang bagi pejalan kaki, penyandang cacat, dan pengguna sepeda.

Untuk itu, pemerintah Kota Banda Aceh telah menetapkan dokumen perencanaan dan perancangan kota sebagai produk hukum yang kuat dan mengikat baik dalam wujud peraturan daerah /peraturan walikota, termasuk peraturan mengenai ruang terbuka hijau. Dalam hal ini, mencakup juga pembuatan Masterplan Kota Hijau dan Rencana Detail Tata Ruang Kota yang mengadopsi prinsip-prinsip Kota Hijau. Pemko Banda Aceh telah melahirkan Qanun No.4 Th 2009 tentang RTRW Kota Banda Aceh Tahun 2009-2029 yang turut mengatur tentang ruang terbuka hijau Kota Banda Aceh.

Green Open Space (Ruang Terbuka Hijau)
Ruang terbuka hijau (RTH) adalah salah satu elemen terpenting kota hijau. Ruang terbuka hijau berguna dalam mengurangi polusi, menambah estetika kota, serta menciptakan iklim mikro yang nyaman. Hal ini dapat diciptakan dengan perluasan lahan taman, koridor hijau dan lain-lain.

Mengingat pentingnya peranan ruang terbuka hijau dalam visi green city, Pemko Banda Aceh telah melahirkan Qanun No. 4 Tahun 2009 tentang RTRW Kota Banda Aceh 2009-2029. Dalam qanun ini, ditetapkan bahwa pengembangan ruang terbuka hijau (RTH) meliputi taman kota, hutan kota, jalur hijau jalan, sabuk hijau, RTH pengaman sungai dan pantai atau RTH tepi air. Pengaturan ruang terbuka hijau (RTH) di Kota Banda Aceh disebar pada setiap desa/gampong (90 gampong).

Jumlah RTH hingga tahun 2011 meliputi taman kota tersebar pada 40 gampong dan hutan kota tersebar pada 19 gampong. Target pencapaian RTH gampong setiap 5 tahun sebanyak 12 taman kota dan 18 hutan kota sehingga pada tahun 2029 pemanfaatan ruang terbuka hijau telah tersebar merata di seluruh gampong di Kota Banda Aceh.

Sesuai dengan RTRW Kota Banda Aceh Tahun 2009-2029, pemerintah Kota Banda Aceh menargetkan RTH publik sebesar 20,52%. Hingga tahun 2011 ini luas RTH (ruang terbuka hijau) yang dimiliki oleh Pemerintah Kota adalah sebesar ± 12,0%. Untuk mencapai target 20,52% tersebut, Pemerintah Kota terus berupaya mengimplemetasikan berbagai kebijakan dan program perluasan ruang terbuka hijau.

Untuk RTH privat, kebijakan Pemerintah Kota Banda Aceh sudah menerapkan RTH seluas 30 – 40% dari setiap persil bangunan, dimana angka persentase luasan RTH ini sudah melebihi target yang ditetapkan dalam UU Nomor 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang yaitu 10%. RTH yang dikembangkan di Banda Aceh meliputi sempadan sungai, sempadan pantai, sepanjang jaringan jalan, pemakaman, taman kota yang tersebar pada setiap kecamatan, dan hutan kota.

Pada kawasan pesisir pantai, RTH berfungsi sebagai penyangga bagi daerah sekitarnya dan penyangga antara kawasan pesisir dengan kawasan terbangun juga berfungsi mereduksi gelombang pasang dan meminimalkan gelombang tsunami. Oleh karena itu, bagi Kota Banda Aceh, RTH di sepanjang pesisir pantai juga merupakan bagian tidak terpisahkan dari strategi mitigasi bencana. Selain itu, ia juga berperan untuk mengatur tata air, pencegahan banjir dan erosi, serta memelihara kesuburan tanah. Sementara itu, RTH di dalam kota seperti RTH di sempadan sungai dan di sepanjang jalan berfungsi peneduh/penyejuk, penetralisasi udara, dan keindahan dan menjaga keseimbangan iklim mikro. Untuk mendukung keberadaan RTH dan menjaga keseimbangan iklim mikro, Kota Banda Aceh juga didukung oleh beberapa kawasan tambak, tandon, kawasan bakau dan tujuh aliran sungai yang berfungsi sebagai daerah tangkapan air (catchment area), kegiatan perikanan, dan sebagainya.

Selain itu, Kota Banda Aceh juga melakukan peningkatan/revitalisasi hutan dan taman Kota. Juga dilakukan pemeliharaan berkala terhadap 74 taman, 10 areal perkuburan, taman pembibitan (7.12 Ha), dan hutan kota (6 Ha) yang ada di Kota Banda Aceh.

SURABAYA



Ruang Terbuka Hijau (RTH) yang dimiliki Kota Surabaya hanya 26 persen dari total luas wilayah kota Surabaya yang mencapai 333.063 kilometer persegi. Untuk itu, Pemerintah Kota Surabaya bertekad untuk tetap membangun RTH-RTH baru yang sangat dibutuhkan untuk menjaga keseimbangan lingkungan.

Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini mengatakan, beberapa tahun lalu luas RTH di Surabaya hanya sembilan persen, lalu kemudian naik menjadi 12 persen, dan kini sebesar 26 persen.

Di dalam Undang Undang (UU) Nomor 26/2007 tentang penataan ruang mensyaratkan RTH pada wilayah kota paling sedikit 30 persen dari luas wilayah kota. RTH terdiri dari ruang terbuka hijau publik dan ruang terbuka hijau privat.

Proporsi RTH publik pada wilayah kota paling sedikit 20 persen dari luas wilayah kota. “Saya menargetkan luas RTH bisa di atas 30 persen sehingga Surabaya bisa lebih sejuk, minim polusi, bebas banjir karena banyaknya resapan, juga wajah Surabaya menjadi lebih indah, jelasnya.

Ke depan, sambung Risma, pemkot menargetkan luas RTH di Surabaya dapat mencapai 35 persen. Karena dengan luas RTH sebesar itu dapat menurunkan suhu udara rata-rata di Surabaya dari 34 derajat celcius menjadi 32 hingga 30 udara bisa 32-30 derajat celcius .

Pembuatan RTH ini tidak selalu dalam bentuk taman, akan tetapi juga bisa berupa pembuatan waduk, penanaman pohon di pinggir jalan, hingga tempat-tempat pembiakan bibit tanaman.

“Tahun ini kita membebaskan 2 hektar lahan untuk RTH. Dan diusahakan tahun ini akan ada banyak RTH-RTH baru yang lebih menyebar diberbagai wilayah di Surabaya,” pungkasnya.


KESIMPULAN
           Peraturan tertulis atau perundang-undangan yang mengatur tentang Ruang Terbuka Hijau sudah sejak lama dibuat dan dengan jelas mengatur tentang hal ini, namun masih sedikit saja kota yang mampu memenuhi syarat dan kriteria ruang terbuka hijau dari presentase luas wilayah kota. Padahal Ruang Terbuka Hijau memiliki fungsi / manfaat besar dan peran yang vital bagi sebuah kota dan masyarakan di dalamnya tentunya. Bahkan di kota-kota besar terutama di Jakarta sebagai ibukota, pembangunan dan pengelolaan RTH wilayah perkotaan harus menjadi substansi yang terakomodasi secara hierarkial dalam perundangan dan peraturan serta pedoman di tingkat nasional dan daerah/kota. Untuk tingkat daerah baik provinsi maupun kabupaten/kota, permasalahan RTH menjadi bagian organik dalam Rencana Tata Ruang Wilayah dan subwilayah yang diperkuat oleh peraturan daerah.

cr:
https://id.wikipedia.org/wiki/Ruang_Terbuka_Hijau
http://www.voaindonesia.com/content/penerapan-kebijakan-ruang-terbuka-hijau-rth-di-indoesia-minim/1521006.html
https://bebasbanjir2025.wordpress.com/04-konsep-konsep-dasar/ruang-terbuka-hijau/
http://www.penataanruang.com/ruang-terbuka-hijau.html